Alpetara Tempat Pertobatan Mantan Petarung Jalanan

TANGERANG–Ratusan pelajar SMA se-Tangerang Raya, tumpah ruah di jalanan Kota Tangerang, Kamis (12/10). Dengan menumpang kendaraan bak terbuka, bus dan angkutan umum, para pelajar berkumpul bukan hendak tawuran. Melainkan usai tabur bunga ke makam salah satu korban tawuran pelajar di makam daerah Kebon Nanas, Cikokol, Tangerang.

Pelajar yang tergabung dalam Aliansi Alumni Pelajar Tangerang Raya (Alpetara) dikatakan rutin melakukan kunjungan ke makam almarhum Teguh Setyo Budi atau yang karib disapa ‘Djawa’. Ia sendiri merupakan salah satu korban dari aksi tawuran yang terjadi pada 12 Oktober 2002 silam.

“Kegiatan nyekar ini rutin diadakan setiap tanggal 12 Oktober dan sudah mendarah daging di antara teman-teman Alpetara. Ini merupakan yang ke 15 kalinya semenjak insiden berdarah tersebut,” papar Ketua Alpetara Agia Adha.

Kebetulan, lanjutnya pelajar yang ikut ini tidak tahu dan tidak paham siapa sih almarhum ‘Djawa’. Sebenarnya, kegiatannya hanya menabur bunga, mengirim doa dan bersilaturahmi ke keluarga korban. “Teman-teman yang ikut perwakilan dari beberapa sekolah yang ada di Tangerang Raya yang lekat dengan stigma tawuran,” tuturnya.

Pada 2016 silam, Alpetara dibentuk dengan melakukan deklarasi di Taman Potret, Cikokol Tangerang. Tujuannya sendiri dikatakan dibentuk sebagai salah satu wadah kepada pelajar untuk tidak melakukan tawuran dan kegiatan kekerasan lainnya. Alpetara dibentuk sebagai pertobatan dan simbol permintaan maaf para senior karena telah mewariskan budaya tawuran ini kepada penerusnya.

“Jadi alumni yang mengakomodir perkumpulan atau aliansi ini. Untuk memperkuat komitmen, deklarasi antitawuran kita berikan wadah kepada teman-teman pelajar untuk berjanji stop tawuran antarpelajar. Alpetara ini juga simbol pertobatan dan permintaan maaf kami para senior yang sudah mewariskan budaya tawuran,” imbuh alumni SMKN 2 Kota Tangerang.

Aliansi ini dibentuk berangkat dari keprihatinan. Agia merasa prihatin saat melihat para pelajar sering tawuran hingga memakan korban jiwa. Ia dan teman-temannya yang saat masih duduk di bangku SMA/SMK sering tawuran merasa berdosa. Karena, budaya tawuran itu terus turun temurun hingga sekarang. Agia lantas mengumpulkan teman-teman seangkatannya mendirikan Alpetara. Tujuannya, menghentikan budaya tawuran.

Sejak Alpetara terbentuk, kemudian rutin road show ke sekolah-sekolah, terutama sekolah yang menjadi biang tawuran. Mengajak para pelajar bergabung ke Alpetara untuk berkomitmen menghentikan aksi koboi jalanan.

Meski begitu, ia mengatakan tidak seluruh siswa dari pelajar se-Tangerang Raya yang mau deklarasi menolak tawuran. Terbukti, masih ada beberapa yang melakukan aksi tersebut di lapangan. “Baru sekitar 80 persen pelajar saja yang mau deklarasi. Selebihnya ya, mereka yang masih belum sadar saja. Tawuran dan kenakalan remaja lainnya secara tidak langsung masih ada di lapangan,” tambahnya.

Sejak Alpetara dibentuk, melakukan kegiatan ke sekolah-sekolah mengajak para pelajar menghentikan budaya tawuran. Bahkan, mereka sudah bertemu dengan Walikota Tangerang Arief R Wismansyah pada 11 April lalu. Dikutip dari portal Alpetara, kepada walikota mereka berkomitmen untuk mencegah tawuran.

Sebelum bertemu dengan walikota, Alpetara sudah melakukan deklarasi Stop Tawuran bersama para pelajar se-Tangerang Raya 1 Oktober 2016 lalu di Taman Potret Cikokol. Agia menegaskan Alpetara harus menjadi cikal bakal pemutus mata rantai tawuran antar pelajar yang kerap terjadi di Kota Tangerang dan sudah seharusnya kebiasaan itu dihentikan dan tidak terjadi lagi kepada generasi baru selanjutnya